Sabtu, 30 Mei 2015

PERAN POLA ASUH DALAM UPAYA PEMBENTUKAN KEDISIPLINAN ANAK USIA DINI



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke empat di dunia. Dengan aset jumlah penduduk yang begitu banyak akan mempermudah mewujudkan negara yang maju. Salah satu cara bagaimana mewujudkan negara maju adalah dengan memiliki sumber daya manusia yang berkualitas. Dimana sumber daya manusia tersebut harus memiliki sikap dan kemampuan yang baik. Ketepatan, kecepatan, dan kedisiplinan merupakan hal pokok yang harus dimiliki oleh sumber daya manusia yang berkualitas. Kedisiplinan dalam segala hal menjadi salah satu penentu keberhasilan pembangunan suatu negara. Untuk membentuk manusia yang disiplin membutuhkan waktu dan proses. Harus ada penerapan sejak dini agar seseorang terbiasa melakukan hal-hal secara teratur dan terjadwal. Oleh karena itu menerapkan kedisiplinan melalui pola asuh yang baik sejak dini pada anak sangat penting untuk dilakukan, karena pada masa anak-anak pembentukan kedisiplinan masih mudah untuk diterapkan.
Pola asuh merupakan suatu cara yang dilakukan dalam mendidik dan menjaga anak secara terus menerus dari waktu ke waktu sebagai perwujudan rasa tanggung jawab orang tua terhadap anak. Dalam mengasuh anak, orang tua harus memiliki pengetahuan agar mereka tidak salah asuh. Selain itu orang tua juga harus mengetahui seutuhnya karakteristik yang dimiliki oleh anak. Peranan orang tua begitu besar dalam membantu anak agar siap memasuki gerbang kehidupan mereka. Disinilah kepedulian orang tua sebagai guru yang pertama dan utama bagi anak-anak. Sebagai orang tua harus betul-betul melakukan sesuatu untuk anak tercinta. Bagaimana seorang anak dapat tetap memandang masa depan mereka dalam angan seorang anak, bagaimana mereka dapat menjadi generasi penerus kita. Masa depan bangsa Indonesia kelak di tangan mereka dan masa depan mereka dipersiapkan oleh orang tua saat ini.
Anak usia dini merupakan tahapan usia yang paling menentukan bagaimana karakter, kepribadian, dan sikap anak di masa dewasa. Karena pada usia dini seorang anak memasuki masa golden age. Yaitu masa dimana perkembangan otak anak bekerja secara optimal dalam menerima segala informasi. Sehingga jika pada usia tersebut anak dididik dengan baik maka akan terbentuk kepribadian anak yang baik pula. Anak adalah perwujudan cinta kasih orang dewasa yang siap atau tidak untuk menjadi orang tua. Pada akhirnya mau atau tidak orang tua dituntut untuk siap menjadi orang tua yang harus dapat mempersiapkan anak-anak kita agar dapat menjalankan kehidupan masa depan mereka dengan baik.
Kedisiplinan merupakan hal yang penting yang harus ditanamkan pada anak. Disiplin merupakan suatu ketaatan dan kepatuhan terhadap sesuatu yang telah disepakati. Kedisiplinan dapat dilatih sejak dini melalui pola asuh yang dilakukan oleh keluarga yang dalam hal ini orang tua lebih berperan besar. Melalui pola asuh yang baik, anak akan diarahkan orang tua bagaimana membiasakan diri melakukan hal-hal secara teratur dan terjadwal. Dalam penerapan kedisiplinan tersebut, juga terkandung nilai tanggung jawab yang tumbuh pada diri anak.
Kenyataan yang terjadi bahwa masih sering kita jumpai beberapa anak yang menunjukkan perilaku rendahnya disiplin diri, seperti kebiasaan anak yang masih bermain meskipun hari sudah sore sehingga seharusnya pada saat itu anak sudah mandi namun belum dilakukan, dan akhirnya anak mandi pada saat menjelang maghrib, kebiasaan anak yang tidur larut malam dan bangun terlalu siang, kebiasaan anak yang susah diatur karena kurangnya perhatian dan bimbingan dari orang tua, dan masih banyak lagi kasus anak yang menunjukkan kurang kedisiplinan.

B.  Rumusan Masalah
1.    Bagaimana penerapan pola asuh pada anak usia dini ?
2.    Bagaimana upaya pembentukan kedisiplinan pada anak usia dini ?

C.  Tujuan
1.    Mampu memahami dan menjelaskan konsep dasar pola asuh pada anak.
2.    Mampu memahami dan menjelaskan konsep dasar disiplin anak.

D.  Manfaat
Diharapkan makalah ini dapat bermanfaat untuk pembaca khususnya mahasiswa agar lebih dapat memahami tentang pembentukan kedisiplinan anak usia dini melalui pola asuh yang sesuai dan diharapkan makalah ini dapat menjadi acuan belajar mahasiswa dalam meningkatkan efektivitas dalam belajar.


























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.  Kajian Teori
1.    Hakekat Pola Asuh
Pola asuh merupakan suatu cara yang diterapkan dalam menjaga, merawat, dan mendidik seorang anak sebagai wujud pertanggung jawaban orang tua terhadap anaknya. pola asuh dibagi menjadi tiga jenis yaitu :
a.    pola asuh otoriter
Pola asuh otoriter adalah pola asuh yang ditandai dengan cara mengasuh anak-anaknya dengan aturan-aturan ketat, sering kali memaksa anak untuk berperilaku seperti dirinya n(orang tua), kebebasan untuk bertindak atas nama diri sendiri dibatasi. Anak jarang diajak berkomunikasi dan diajak ngobrol, bercerita, bertukar pikiran dengan orang tua. Pola asuh yang bersifat otoriter ini juga ditandai dengan hukuman-hukumannya yang dilakukan dengan keras, mayoritas hukuman tersebut sifatnya hukuman badan dan anak juga diatur yang membatasi perilakunya.
b.    Pola asuh demokratis
            Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang ditandai dengan pengakuan orang tua terhadap kemampuan anak-anaknya, dan kemudian anak diberi kesempatan uantuk tidak selalu tergantung kepada orang tua. Dalam pola asuh seperti ini orang tua memberi sedikit kebebasan kepada anak untuk memilih apa yang dikehendaki dan apa yang diinginkan yang terbaik bagi dirinya, anak diperhatikan dan didengarkan saat anak berbicara, dan bila berpendapat orang tua memberi kesempatan untuk mendengarkan pendapatnya. Anak dilibatkan dan diberikesempatan untuk berpartisipasi dalam mengatur hidupnya, ada yang mengatakan tidak semua orang tua mentolelir terhadap anak, dalam hal-hal tertentu orang tua perlu ikut campur tangan, misalnya dalam keadaan membahayakan hidupnya atau keselamatan anak.
c.    Pola asuh laisses fire
Pola asuh ini adalah pola asuh dengan cara orang tua mendidik anak secara bebas,anak dianggap orang dewasa atau muda, ia diberi kelonggaran seluas-luasnya apa saja yang dikehendaki. Kontrol orang tua terhadap anak sangat lemah, juga tidak memberikan bimbingan pada anaknya. Semua apa yang dilakukan oleh anak adalah benar dan tidak perlu mendapatkan teguran, arahan, atau bimbingan.

B.  Keluarga
1.    Pengertian
Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga, berintekrasi satu sama lain, dan didalam perannya masing-masing menciptakan dan mempertahankan kebudayaan.

2.    Bentuk-bentuk keluarga
a.    Keluarga inti (nuclear family). Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak.
b.    Keluarga besar (extended family). Keluarga inti ditambah dengan sanak saudara, nenek, kakek, keponakan, sepupu, paman, bibi dan sebagainya.
c.    Keluarga berantai (serial family). keluarga ynag terdiri atas wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.
d.   Keluarga duda atau janda (single family). Keluarga ini terjadi karena adanya perceraian atau kematian.
e.    Keluarga berkomposisi. Keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama-sama.
f.     Keluarga kabitas. Dua orang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk satu keluarga.
Tipe keluarga menurut konteks keilmuan dan pengelompokan orang
a.    Traditional nuclear. Keluarga inti (ayah, ibu, dan anak) tinggal dalam satu rumah ditetapkan oleh saksi-saksi legal dalam suatu ikatan perkawinan, satu atau keduanya dapat bekerja diluar rumah.
b.    Reconstituted nuclear. Pembentukan baru dari keluarga inti melalui perkawinan kembali suami atau istri, tinggal dalam pembentukan suatu rumah dengan anak-anaknya, baik itu dari perkawinan lama maupun hasil perkawinan yang baru. Satu atau keduanya dapat bekerja diluar rumah.
c.    Middle age atau aging couple. Suami sebagai pencari uang, istri di rumah, atau keduanya bekerja diluar rumah, anak-anak sudah meninggalkan rumah karena sudah sekolah, perkawinan, atau meniti karier.
d.   Dyadic nuclear. Pasangan suami istri yang sudah berumur dan tidak mempunyai anak. Keduanya atau salah satu bekerja diluar rumah.
e.    Single parent. Keluarga dengan satu orang tua sebagai akibat perceraian atau akibat kematian pasangannya, anak-anaknya dapat tinggal di dalam rumah atau diluar rumah.
f.     Commuter married. Pasangan suami istri atau keduanya sama-sama bekerja dan tinggal terpisah pada jarak tertentu, keduanya saling mencari pada waktu-waktu tertentu.
g.    Single adult. Wanita atau pria dewasa yang tinggal sendiri dengan tidak adanya keinginan untuk menikah.
h.    Three generation. Tiga generasi atau lebih yang tinggal dalam satu rumah.
i.      Institusional. Anak-anak atau orang dewasa tinggal dalam satu panti.
j.      Communal. Satu rumah terdiri dari dua atau lebih pasangan yang monogamy dengan anak-anaknya dan sama-sama berbagi fasilitas.
k.    Groub marriage. Satu rumah terdiri dari orang tua dan satu kesatuan keluarga.
l.      Unmarried parent and child. Ibu dan anak pernikahannya tidak dikehendaki dan kemudian anaknya diadopsi.
m.  Cohabitating couple. Dua orang tua atau satu pasangan yang bersama tanpa menikah.
n.    Extended family. Nuclear family dan anggota keluaraga yang lain tinggal dalam satu rumah dan berorientasi pada satu kepala keluarga.
3.    Fungsi Keluarga
Fungsi keluarga yang dapat dijalankan yaitu sebagai berikut:
a.    Fungsi biologis adalah fungsi untuk meneruskan keturunan, memelihara, dan membesarkan anak, serta memenuhi kebutuhan gizi keluarga
b.    Fungsi psikologis adalah memberikan kasih sayang dan rasa aman bagi keluarga, memberikan perhatian diantara keluarga, memberikan kedewasaan kepribadian anggota keluarga, serta memberikan identitas pada keluarga.
c.    Fungsi sosialisasi adalah membina sosialisasi pada anak, membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan masing-masing dan meneruskan nilai-nilai budaya.
d.   Fungsi ekonomi adalah mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga saat ini dan menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga dimana yang akan datang.
e.    Fungsi pendidikan adalah menyekolahkan anak untuk memberikaan pengetahuan, keterampilan, membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya, mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam memenuhi perannya sebagai orang dewasa serta mendidik anak sesuai dengan tingkat perkembanganya.
4.    Peran Keluarga
Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukanya dalam suatu sistem. Peran merujuk kepada beberapa set perilaku yang kurang lebih bersifat homogen, yang didefinisikan dan diharapkan secara normatif dari seseorang peran dalam situasi sosial tertentu. Peran keluarga adalah tingkah laku spesifik yang diharapkan oleh seseorang dalam konteks keluarga. Jadi peran keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu. Peranan individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok dan masyarakat.
Setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing. Peran ayah yang sebagai pemimpin keluarga yang mempunyai peran sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung atau pengayom, pemberi rasa aman bagi setiap anggota keluarga dan juga sebagai anggota masyarakat kelompok sosial tertentu. Peran ibu sebagai pengurus rumah tangga, pengasuh dan pendidik anak-anak, pelindung keluarga dan juga sebagai anggota masyarakat kelompok sosial tertentu. Sedangkan peran anak sebagai pelau psikososial sesuai dengan perkembangan fisik, mental, sosial dan spiritual.
Terdapat dua peran yang mempengaruhi keluarga yaitu peran formal dan peran informal.

a.    Peran Formal
Peran formal keluarga adalah peran-peran keluarga terkait sejumlah perilaku yang kurang lebih bersifat homogen. Keluarga membagi peran secara merata kepada para anggotanya seperti cara masyarakat membagi peran-perannya menurut pentingnya pelaksanaan peran bagi berfungsinya suatu sistem. Peran dasar yang membentuk posisi sosial sebagai suami-ayah dan istri-ibu antara lain sebagai provider atau penyedia, pengatur rumah tangga perawat anak baik sehat maupun sakit, sosialisasi anak, rekreasi, memelihara hubungan keluarga paternal dan maternal, peran terpeutik (memenuhi kebutuhan afektif dari pasangan), dan peran sosial.
b.    Peran Informal kelurga
Peran-peran informal bersifat implisit, biasanya tidak tampak, hanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan emosional individu atau untuk menjaga keseimbangan dalam keluarga. Peran adapif antara lain :
1)   Pendorong memiliki arti bahwa dalam keluarga terjadi kegiatan mendorong, memuji, dan menerima kontribusi dari orang lain. Sehingga ia dapat merangkul orang lain dan membuat mereka merasa bahwa pemikiran mereka penting dan bernilai untuk di dengarkan.
2)   Pengharmonisan yaitu berperan menengahi perbedaan yang terdapat diantara para anggota, penghibur, dan menyatukan kembali perbedaan pendapat.
3)   Inisiator-kontributor yang mengemukakan dan mengajukan ide-ide baru atau cara-cara mengingat masalah-masalah atau tujuan-tujuan kelompok.
4)   Pendamai berarti jika terjadi konflik dalam keluarga maka konflik dapat diselesaikan dengan jalan musyawarah atau damai.
5)   Pencari nafkah yaitu peran yang dijalankan oleh orang tua dalam memenuhi kebutuhan, baik material maupun non material anggota keluarganya.
6)   Perawaatan keluarga adalah peran yang dijalankan terkait merawat anggota keluarga jika ada yang sakit.
7)   Penghubung keluarga adalah penghubung, biasanya ibu mengirim dan memonitori kemunikasi dalam keluarga.
8)   Poinir keluarga adalah membawa keluarga pindah ke satu wilayah asing mendapat pengalaman baru.
9)   Sahabat, penghibur, dan koordinator yang berarti mengorganisasi dan merencanakan kegiatan-kegiatan keluarga yang berfungsi mengangkat keakraban dan memerangi kepedihan.
10)    Pengikut dan sanksi, kecuali dalam beberapa hal, sanksi lebih pasif. Sanksi hanya mengamati dan tidak melibatkan dirinya.

C.  Disiplin
Disiplin berasal dari kata yang sama dengan “disciple”, yakni seorang yang belajar dari atau secara suka rela mengikuti seorang pemimpin. Orang tua dan guru merupakan pemimpin dan anak merupakan murid yang belajar dari mereka cara hidup yang menuju ke hidup yang berguna dan bahagia. Jadi disiplin merupakan cara masyarakat mengajar anak perilaku moral yang disetujui kelompok
Disiplin adalah proses bimbingan yang bertujuan menanamkan pola perilaku tertentu, kebiasaan-kebiasaan tertentu atau membentuk manusia dengan ciri-ciri tertentu. Terutama, yang meningkatkan kualitas mental dan moral. Jadi inti dari disiplin ialah membiasakan anak untuk melakukan hal-hal yang sesuai dengan aturan yang ada dilingkungannya.
Untuk itu disiplin dapat diartikan secara luas. Disiplin dapat mencakup pengajaran, bimbingan atau dorongan yang dilakukan orangtua kepada anaknya. Menerapkan disiplin kepada anak bertujuan agar anak belajar sebagai mahluk sosial. Sekaligus, agar anak mencapai pertumbuhan serta perkembangan yang optimal.
Tujuan disiplin ialah membentuk perilaku sedemikian rupa hingga ia akan sesuai dengan peran-peran yang ditetapkan kelompok budaya, tempat individu itu diidentifikasikan. Karena tidak ada pola budaya tunggal, tidak ada pula satu falsafah pendidikan anak yang menyeluruh untuk mempengaruhi cara menanamkan disiplin. Jadi metode spesifik yang digunakan di dalam kelompok budaya sangat beragam, walaupun semuanya mempunyai tujuan yang sama, yaitu mengajar  anak bagaimana berperilaku dengan cara yang sesuai dengan standar kelompok sosial, tempat mereka diidentifikasikan (Hurlock 1999).
a.    Perlunya Disiplin
Disiplin perlu untuk dikembangkan anak, karena ia memenuhi beberapa kebutuhan tertentu dengan demikian disiplin memperbesar kebahagiaan dan penyesuaian pribadi dan sosial anak. Beberapa kebutuhan masa kanak-kanak yang dapat diisi oleh disiplin
1.    Disiplin memberi rasa aman dengan memberitahukan apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan
2.    Dengan disiplin, anak belajar bersikap menurut cara yang akan mendatangkan pujian yang akan ditafsirkan anak sebagai tanda kasih sayang dan penerimaan.
3.    Disiplin yang sesuai dengan perkembangan berfungsi sebagai motivasi pendorong ego yang mendorong anak mencapai apa yang diharapkan darinya.
4.    Disiplin membantu anak mengembangkan hati nurani dalam pengambilan keputusan dan pengendalian perilaku.
Meskipun semua anak membutuhkan disiplin, kebutuhan mereka bervariasi. Terdapat banyak kondisi yang mempengaruhi kebutuhan anak akan disiplin, enam diantaranya dianggap sangt penting.
Pertama, karena terdapat variasi dalam laju perkembangan berbagai anak, tidak semua anak dengan usia yang sama dapat diharapkan mempunyai kebutuhan akan disiplin yang sama, ataupun jenis disiplin yang sama.
Kedua, kebutuhan akan disiplin bervariasi menurut waktu dalam sehari. Ketiga, kegiatan yang dilakukan anak mempengaruhi kebutuhan akan disiplin.disiplin yang paling besar kemungkinannya dibutuhkan untuk kegiatan sehari-hari yang rutin, misalnya makan, tidur atau membuat pekerjaan rumah dan paling sedikit diperlukan bila anak bebas bermain sekehendak hatinya.
Keempat, kebutuhan akan disiplin bervariasi dengan hari dalam seminggu. Hari Senin danakhir minggu merupakan saat disiplin paling dibutuhkan.
Kelima, disiplin lebih sering dibutuhkan dalam keluarga besar dari pada keluarga kecil. Semakin banyak anak dalam suatu keluarga, semakin kurang perhatian dan pengawasan yang didapat dari orang tua, dan semakin besar kemungkinan ada kecemburuan antar saudara dan rasa permusuhan, diikuti pertengkaran dan bentuk perilaku mengganggu lain.
Keenam, kebutuhan akan disiplin bervariasi dengan usia. Anak lebih besar kurang membutuhkan disiplin dibanding anak kecil. (Hurlock, 1999)
b.    Pendidikan Disiplin untuk Anak Usia Dini
Kedisplinan anak adalah memberikan pengertian akan mana yang baik dan yang buruk. Perlu di tanamkan pada anak bahwa berbuat kesalahan tentu mengandung sejumlah konsekuensi,untuk itulah fungsi hukuman dalam pendidikan anak.
Memberikan hukuman pada anak yang benar seharusnya tetap berlandaskan kasih sayang, dan tidak sampai menggunakan kekerasan fisik. Karena bagaimanapun anak tetap memiliki haknya untuk tidak menerima kekerasan dimana diatur dalam UU No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Pasal 8 yang berbunyi “Berhak untuk memperoleh pelayanan kesehatan,jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik,mental,spiritual dan sosial.”
c.    Cara efektif memberikan pendidikan disiplin pada anak.
Mendisplinkan anak usia dini tidak bisa dilakukan seecara instan atau dengan proses yang cepat, terkadang kesalahan-kesalahan pun masih tetap terjadi. Cara yang paling efektif memberikan pendidikan disiplin untuk anak usia dini agar mudah diterimanya yaitu dengan beberapa langkah bijak berikut:
1.    Arahan dan nasihat
Orang tua wajib memberikan arahan dan nasihat kepada anak-anak sebagai wujud sayangnya. Nasihat akan bgampang diterima,jika deberikan dengan ikhlas,cara yang baik,momen yang tepat,bertahap,dan anak dalam keadaan siap menerima nasihat
2.    Dialog hati
Kemampuan dialog menentukan sukses tidaknya seseorang dalam kehidupannya selanjutnya. Membuka dialog dan menyediakan waktu khusus untuk anak sejak kecil akan memudahkan orang tua untuk tetap dekat dengan anak.
3.    Memberi contoh
Sungguh tidak adil rasanya jika orang tua mengharapkan anaknya bersikap manis dan tidak bersuara keras di depan orang lain,sedangkan anak sering melihat orang tuanya berbicara dengan suara lantang di rumah.
4.    Limpahi dengan hadiah atas prestasinya
Memberikan hadiah kepada anak dimaksudkan memberi semangat kepada anak sehingga anak dapat berjuang untuk lebih baik lagi kedepannya. Cara yang benar dalam pemberian kepada anak ada hal yang perlu diperhatikan,di antaranya:
a)    Orang tua jangan membuat target untuk nilai prestasi anak disekolah,karena prestasi anak di sekolah tidak menjamin anak dimasa depan.
b)   Tidak memberikan hadiah kepada anak agar patuh kepada orang tua. Karena,kepatuhan kepada orang tua sudah menjadi kewajiban.
c)    Berikan hadiah yang menjadi kebutuhan utama terutama yang mendukung kegiatan belajar.
d)   Tidak memberikan hadiah diluar batas kemampuan.
e)    Jangan sampai menjanjikan hadiah sebagai janji,karena ingatan anak akan terus mengingatnya.


d.   Hukuman dengan kasih sayang.
Orang tua harus memahami prinsip dalam menghukum anak  prinsip penting dalam menyayangi dengan hukuman antara lain:
1.    Menghukum sesuai tahapan usia anak. Anak usia di bawah usia 3 tahun masih dalam rangka ’toilet training’. Ia belum layak mendapatkan hukuman fisik ketika ia mengompol
2.    Menghukum sesuai bobot kesalahan. Seorang ayah memukuli anaknya,5tahun yang memecahkan pot keramik. Hal di atas tak ssepantasnya dilakukan semestinya ketika kita memiliki balita,kita lebih berhati-hati menyimpan barang-barang yang mudah pecah.
3.    Tidak menghukum karena kesalahan oranglain. Sebuah keluarga dengan banyak anak menghukum seluruh anaknya karena salah satu dari mereka melakukan kesalahan. Hal ini akan menjadi bibit masalah danv rasa tak adil pada anak
4.    Aturan hukum diterangkan pada anak. Sampaikan aturan main pada anak dalam menghukum,jangan membuat keputusan yang tiba-tiba tanpa kesepakatan terlebih dahulu.
5.    Menghukum tidak depna orang lain. Anda jangan membentak atau memukulnya didepan orang lain. Berikan nasihat umum lebih baik. Lalu hukuman yang baik,adalah:
a)    Hukuman yang mengandung nilai kasih dan membuat anak tahu dimana letak kesalahannya.
b)   Ajari mengucapkan kata ”maaf” ketika salah dan ”terima kasih” ketika ada yang meminta maaf.
c)    Kesabaran dan ketelatenan untuk terus dan terus melakukan pengertian.
d)   Berikan Pujian dari setiap hukuman.

4.    Hakekat Anak Usia Dini
Anak usia dini adalah kelompok anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat unik, dalam arti memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan (koordinasi mortorik halus dan kasar), intelegensi (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi,  dan kecerdasan spiritual), sosial emosional (sikap dan perilaku serta agama), bahasa dan komunikasi yang khusus sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak (Mansur, 2005).
Usia dini biasa di sebut dengan golden age karena fisik dan motorik anak berkembang dan bertumbuh dengan cepat, baik perkembangan emosional, intelektual, bahasa maupun moral (budi pekerti). Bahkan ada yang menyatakan bahwa pada usia empat tahun 50% kecerdasan telah tercapai, dan 80% kecerdasan tercapai pada usia delapan tahun.Adalah hal lumrah jika banyak pihak begitu memperhatikan perkembangan anak usia emas yang tak akan terulang lagi ini (Partini, 2010).
Anak usia dini adalah anak yang sedang mengalami masa kanak-kanak awal, yaitu berusia 2-6 tahun yang akan ditumbuhkan kemampuan emosinya agar setelah dewasa nanti berkemungkinan besar memiliki kecerdasan (Yasin, 2007).
                 
 BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Pola asuh merupakan suatu cara yang dilakukan dalam hal merawat, mendidik, mengurus anak secara periodik dan terus-menerus. Pola asuh dibagi menjadi tiga jenis yaitu pola asuh demokratis dimana dalam pola asuh tersebut seorang anak diberi kebebasan untuk melakukan sesuatu yang diinginkan namun orang  tua tetap melakukan pengawasan.dala pola asuh demokratis orang tua juga banyak melakukan komunikasi dengan anak agar orang tua tahu bagaimana perkembangan anak dan apa saja yang anak lakukan. Pola asuh yang kedua adalah pola asuh otoriter dimana pola asuh ini sangat menekankan peraturan-peraturan yang harus dipatuhi oleh anak. jika anak tidak melanggar tidak jarang orang tua akan member hukuman. Pola asuh yang ketiga adalah pola asuh laisses fire dimana orang tua member kebebasan kepada anak tanpa adanya pengawasan. Anak dianggap sudah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, sehingga tidak perlu adanya pengawasan.
Keluarga merupakan sekumpulan orang yang tinggal dalam suatu rumah biasanya terdiri dari ayah, ibu dan anak yang saling memiliki pertautan batin. Keluarga memiliki bermacam-macam kondisi. Ada keluarga seimbang yang dapat diartikan keluarga yang harmonis dimana semua anggota keluarga merasakan kedamaian dan ketentraman. Kondisi keluarga yang lain yaitu keluarga kacau, keluarga protektif, dan keluarga kuasa yang sering dikategorikan sebagai keluarga yang kurang harmonis dimana adaanggota keluarga yang merasa tidak nyaman dan tidak damai hidupdalam keluarga tersebut.
Disiplin dapat diartikan sebagai suatu perbuatan tang dilakukan secara tepat waktu dan teratur. Tujuan disiplin itu sendiri adalah membentuk perilaku yang baik dan dapat menjadi suatu kebiasaan. Perlunya disiplin bagi anak yaitu untuk mengembangkan sikap kejujurannya, kesadaran akan kewajibannya, dan menumbuhkan nilai moralnya.
Anak usia dini memiliki pengertian sebagai anak yang sedang berada pada usia prasekolah dimana mereka sedang memasuki masa golden age, yaitu masa dimana anak secara mudah dapat menerima sebuah informasi karena perkembangan otaknya sedang optimal.
Upaya pembentukan kedisiplinan yang dilakukan orang tua hendaknya dilakukan sejak dini, dimana anak masih sangat mudah untuk diberi hal-hal yang baik-baik. Upaya pembentukan kedisiplinan tersebut dapat dilakukan melalui pola asuh orang tua, dimana orang tua harus mengetahui bagaimana cara mengasuh yang tepat untuk menanamkan nilai disiplin pada anak tanpa adanya unsure pemaksaan.


B.  SARAN
Hendaknya sebagai seorang perawat, kita harus terus belajar agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang tepat kepada pasien.








 DAFTAR PUSTAKA

Anwar dan Arsyad Ahmad. (2007). Pendidikan Anak Dini Usia, Panduan Praktis Bagi Ibu dan Calon Ibu). Bandung : Alfabeta
Hurlock,  E.  B.  1999.  Perkembangan  Anak.  Jilid  2.  Alih  bahasa  :  Tjandrasa. Jakarta : Erlangga.
Mansur, (2005). Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam. Yogyakarta :Pustaka Belajar
Partini. (2010). Pengantar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta :Grafindo Letera Media
Rimm Sylvia, (2003). Mendidik dan Menerapkan Disiplin pada Anak Prasekolah. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Shochib, Moh. (2000). Pola Asuh Orang Tua dalam Membantu Anak Mengembangkan Disiplin Diri. Jakarta : Rineka Cipta.


1 komentar:

  1. Slotyro - CasinoCyclopedia
    Slotyro. 3D model with an 양주 출장안마 actual payback. Slotyro is a free-to-play slot game with some awesome features, such 제주도 출장안마 as 동해 출장마사지 free 부천 출장안마 spins, win 전라남도 출장샵 multipliers, and Free spins.

    BalasHapus